Puluhan Siswa di Bantul Diduga Keracunan Program MBG, 80 Orang Jalani Perawatan

Kasus dugaan keracunan makanan yang berkaitan dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebanyak 80 orang yang terdiri dari 78 siswa dan dua guru dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi menu MBG yang disajikan di sekolah.

Insiden tersebut terjadi di wilayah Kapanewon Jetis dan melibatkan dua sekolah, yakni SMP Negeri 3 Jetis dan SMP Muhammadiyah Pulokadang. Para korban kemudian dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.

Korban Berasal dari Dua Sekolah

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Kabupaten Bantul, Hermawan Setiaji, menjelaskan bahwa mayoritas korban berasal dari SMP Negeri 3 Jetis. Sementara satu korban lainnya berasal dari SMP Muhammadiyah Pulokadang.

“Untuk di SMP 3 Jetis korbannya berjumlah 77 siswa dan dua guru. Lalu satu korban lagi dari SMP Muhammadiyah Pulokadang,” ucapnya.

Menurut Hermawan, para korban diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG yang disajikan pada hari sebelumnya.

Gejala Muncul Sehari Setelah Konsumsi MBG

Menu MBG yang dikonsumsi siswa pada Senin, 13 April 2026 terdiri dari nasi, ayam bakar, sayur sawi, tahu goreng, serta buah semangka. Namun, gejala baru mulai dirasakan pada keesokan harinya.

“Jadi menu yang dikonsumsi itu adalah MBG pada hari sebelumnya. Pada hari berikutnya baru siswa mengalami gejala mual, pusing, muntah, dan diare,” katanya.

Melihat banyak siswa mengalami gejala serupa secara bersamaan, pihak sekolah segera mengambil langkah cepat dengan membawa para siswa ke Puskesmas Jetis untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis.

Beruntung, kondisi para siswa relatif stabil sehingga tidak ada yang harus menjalani perawatan inap.

Potensi Korban Bertambah

Sementara itu, Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul, Samsu Aryanto, mengatakan bahwa jumlah korban masih berpotensi bertambah. Hal ini karena SPPG yang menyediakan makanan MBG tersebut melayani banyak sekolah di wilayah Bantul.

“Untuk SPPGnya sendiri informasinya melayani sekitar 25 sekolah. Yang jelas dugaan keracunan MBG itu tidak saja menimpa siswa, akan tetapi juga ada guru yang juga mengalami gejala yang sama,” ujarnya.

Pihak Dinas Kesehatan Bantul saat ini masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut, termasuk melakukan pemeriksaan terhadap sampel makanan dan proses pengolahan di dapur penyedia MBG.

Evaluasi Keamanan Pangan Program MBG

Kasus dugaan keracunan ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dan pihak terkait. Program MBG yang bertujuan meningkatkan pemenuhan gizi anak sekolah tentu membutuhkan pengawasan ketat, terutama dalam aspek keamanan pangan dan standar higiene sanitasi.

Pemerintah daerah bersama instansi kesehatan akan terus melakukan evaluasi terhadap sistem produksi, distribusi, dan penyajian makanan agar kejadian serupa tidak terulang.

Selain itu, pemeriksaan terhadap fasilitas dapur, bahan baku makanan, serta prosedur pengolahan juga akan dilakukan untuk memastikan seluruh proses telah sesuai dengan standar keamanan pangan yang berlaku.

Dengan langkah investigasi dan evaluasi yang sedang berjalan, diharapkan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis tetap dapat memberikan manfaat maksimal bagi siswa tanpa mengabaikan aspek keselamatan dan kesehatan penerima manfaat.

Scroll to Top