PADANG — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Padang, Sumatera Barat, dipastikan tetap berjalan selama bulan Ramadhan 2026. Namun, mekanisme penyalurannya akan mengalami penyesuaian waktu sesuai dengan petunjuk teknis (juknis) yang akan diterbitkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Alai Parak Kopi, Padang Utara, Elvis Kurniawan, mengatakan hingga Senin (2/2/2026), pihaknya masih menunggu juknis resmi dari BGN Pusat terkait skema distribusi MBG selama Ramadhan.
Penyesuaian ini mengacu pada pernyataan Kepala BGN Pusat, Dadan Hindayana, yang menyebutkan bahwa penyaluran MBG tetap dilaksanakan selama bulan puasa dengan sejumlah perubahan mekanisme.
“Kami belum menerima petunjuk teknis dari pusat. Namun pada prinsipnya, kami siap melaksanakan penyaluran MBG selama Ramadhan selama sesuai dengan prosedur yang ditetapkan,” ujar Elvis.
Ia menjelaskan, hingga saat ini SPPG Alai Parak Kopi telah menyalurkan sebanyak 2.931 porsi MBG. Dari jumlah tersebut, 2.497 porsi diberikan kepada siswa dari jenjang PAUD hingga SMA di 10 sekolah, sementara 434 porsi lainnya disalurkan kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang berada di satu wilayah kelurahan.
Selama ini, proses pendistribusian MBG berjalan normal. Untuk penerima manfaat dari kalangan pelajar, makanan diantarkan langsung ke sekolah masing-masing.
Sementara itu, distribusi untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita dilakukan melalui posyandu dengan waktu penyaluran antara pukul 10.00 WIB hingga 12.00 WIB.
Namun, apabila penyaluran MBG dilaksanakan selama Ramadhan, Elvis memperkirakan waktu distribusi akan digeser menjadi pukul 14.00 WIB hingga 16.00 WIB. Penyesuaian waktu tersebut dinilai lebih sesuai agar makanan dapat dikonsumsi saat waktu berbuka puasa.
Dalam rencana awal, SPPG Alai Parak Kopi mengusulkan dua alternatif mekanisme distribusi. Pertama, MBG tetap disalurkan ke sekolah dan posyandu, kemudian dijemput langsung oleh penerima manfaat.
Alternatif kedua, penerima MBG—baik siswa maupun ibu hamil, ibu menyusui, dan balita—datang langsung ke dapur SPPG untuk mengambil makanan.
“Ini masih sebatas opsi yang kami siapkan. Keputusan final tetap menunggu juknis dari BGN Pusat,” kata Elvis.
Menurutnya, distribusi MBG pada sore hari justru memberikan keuntungan dari sisi ketahanan makanan. Proses memasak dapat dilakukan sejak pagi hari, sehingga kualitas makanan tetap terjaga hingga waktu berbuka puasa. Hal ini berbeda dengan hari biasa yang mengharuskan proses memasak dimulai sejak subuh.
Dari sisi menu, SPPG Alai Parak Kopi berencana menambahkan takjil dalam paket MBG selama Ramadhan. Meski demikian, komposisi gizi tetap menjadi prioritas utama dengan menitikberatkan pada protein hewani, protein nabati, serat, dan karbohidrat.
“Untuk detail menu, kami akan mengikuti rekomendasi ahli gizi dan juru masak agar tetap sesuai standar gizi,” ujarnya.
Elvis menegaskan, secara umum tidak terdapat kendala berarti dalam pelaksanaan penyaluran MBG selama Ramadhan 2026. Pihaknya optimistis program tersebut dapat berjalan lancar selama seluruh tahapan distribusi mengikuti petunjuk teknis yang ditetapkan oleh BGN.