Klaten, 29 April 2026 — Ratusan siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, dilaporkan mengalami gejala keracunan makanan setelah mengonsumsi menu dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Para siswa bersama sejumlah guru terpaksa dilarikan ke fasilitas kesehatan akibat mengalami mual, muntah, hingga diare.
Berdasarkan pantauan di Puskesmas Majegan, Tulung, Rabu (29/4/2026) pagi, para siswa terlihat datang silih berganti dengan didampingi orang tua masing-masing. Sejumlah guru juga tampak berada di lokasi untuk memastikan para siswa mendapatkan penanganan medis.
Gejala Muncul Setelah Pulang Sekolah
Salah satu orang tua siswa, Sri Sulaminingsih, mengungkapkan bahwa kejadian tersebut bermula pada Selasa (28/4/2026) sekitar pukul 12.30 WIB. Saat itu, putrinya pulang sekolah dalam kondisi normal. Namun, satu jam kemudian mulai menunjukkan gejala sakit.
“Saya kira sakit lambungnya kumat, lalu saya kasih obat yang biasa diminum. Tapi pas sore harinya tiba-tiba tambah parah, lalu saya bawa ke puskesmas,” ujarnya, Rabu pagi.
Kondisi putrinya semakin memburuk pada sore hari dengan munculnya diare. Setibanya di puskesmas, siswa yang duduk di bangku kelas 8 tersebut langsung mendapatkan penanganan medis dan harus menjalani rawat inap.
Menurut Sri, berdasarkan keterangan putrinya, makanan terakhir yang dikonsumsi sebelum mengalami gejala adalah menu dari program MBG.
“Saya tanya terakhir makan apa, ternyata habis makan MBG. Pas di puskesmas tadi malam, ternyata juga sudah ramai. Banyak teman-teman anak saya yang mengalami gejala sama,” imbuhnya.
Ratusan Siswa Terdampak, Sejumlah Dirawat
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Negeri 1 Tulung, Kris Hadiana, membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia menyebutkan bahwa sejumlah siswa dan guru mengalami gejala serupa yang diduga berkaitan dengan konsumsi makanan dari program MBG.
“Yang dirawat ini data terakhir ada 9 siswa di Puskesmas Majegan dan 2 siswa di PKU Jatinom. Selain itu, sejumlah guru juga ada yang mengalami gejala sama,” kata dia.
Kris menambahkan, secara keseluruhan jumlah siswa yang mengalami gejala diperkirakan kurang dari 200 orang. Gejala yang dialami pun relatif serupa, yakni mual, muntah, dan diare.
Penyebab Masih Dalam Penyelidikan
Hingga saat ini, pihak sekolah belum dapat memastikan penyebab pasti dari kejadian tersebut. Proses penanganan masih dilakukan oleh tenaga medis, sementara investigasi lebih lanjut juga tengah berjalan.
“Ini guru guru masih terus mendampingi anak-anak di rumah sakit. Kebetulan Bapak Kepala Sekolah juga mengalami gejala yang sama, tapi sudah mendapat penanganan dan rawat jalan,” pungkasnya.
Ia juga menyebutkan bahwa waktu munculnya gejala pada sebagian besar siswa terjadi hampir bersamaan, yakni sekitar pukul 17.00 WIB, beberapa jam setelah konsumsi makanan.
Penanganan dan Pemantauan Berlanjut
Peristiwa ini menjadi perhatian serius bagi pihak sekolah, orang tua, serta instansi terkait. Hingga saat ini, para siswa yang terdampak masih dalam pemantauan tenaga kesehatan, sementara sebagian lainnya telah diperbolehkan menjalani perawatan jalan.
Pihak terkait diharapkan segera melakukan evaluasi menyeluruh guna memastikan keamanan pangan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis, sehingga kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.