ACEH — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cadek, Baitussalam, Banda Aceh, pada Rabu (14/10) dini hari.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan operasional penyelenggaraan program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan sesuai standar operasional prosedur (SOP).
Dalam sidak tersebut, Sudaryono yang akrab disapa Mas Dar meninjau sejumlah area operasional SPPG.
Pemeriksaan meliputi ruang persiapan, ruang produksi, ruang penyimpanan, hingga ruang pemorsian makanan.
Peninjauan ini bertujuan memastikan fasilitas dan proses pelayanan di SPPG mendukung pelaksanaan program MBG sesuai ketentuan yang berlaku.
Sidak Bukan untuk Mencari Kesalahan
Sudaryono menegaskan bahwa sidak yang dilakukannya bukan semata-mata untuk mencari kesalahan petugas.
Sebaliknya, kunjungan tersebut menjadi bagian dari pengawasan sekaligus upaya memberikan motivasi kepada para petugas SPPG agar terus menjalankan tugas secara optimal.
Ia menyampaikan bahwa kehadirannya di lokasi juga bertujuan memberikan semangat kepada kepala SPPG beserta seluruh petugas yang terlibat dalam pelaksanaan program MBG di berbagai daerah.
“Dan saya datang ke sini bukan untuk marah-marah, gitu enggak. Tapi kita untuk memastikan, menyemangati kamu (red: Kepala SPPG) dan pasukan kita semua yang ada di seluruh Indonesia,” ujar Sudaryono.
Melalui pengawasan langsung di lapangan, pelaksanaan program diharapkan tetap berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan. Selain itu, kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung kondisi operasional dan kesiapan fasilitas pelayanan gizi.
Validitas Data Menjadi Perhatian dalam Penyaluran MBG
Selain memeriksa fasilitas dan proses operasional, Sudaryono turut menyoroti pentingnya kelengkapan serta validitas data penerima manfaat program MBG.
Menurutnya, kesesuaian data sekolah dengan data yang tercatat dalam sistem menjadi salah satu aspek penting untuk memastikan penyaluran makanan bergizi berjalan tepat sasaran.
Ia menjelaskan, sekolah yang belum memiliki nomor induk sekolah perlu memperbarui data tersebut melalui kementerian yang berwenang sesuai dengan jenis lembaga pendidikannya.
“Ada sekolah-sekolah yang belum ada nomor induk sekolahnya, ya kita enggak bisa layani. Dia harus meng-update nomor induk sekolahnya. Di mana? Kalau dia di sekolah negeri atau swasta ke Kementerian Dikdasmen, kalau madrasah atau pondok pesantren ke Kementerian Agama,” jelasnya.
Kelengkapan administrasi dan kesesuaian data diperlukan agar penerima manfaat dapat teridentifikasi dengan baik. Dengan demikian, pelaksanaan program MBG dapat dipantau dan dievaluasi berdasarkan data yang tersedia.
Dampak MBG Diukur dari Perbaikan Gizi hingga Kehadiran Siswa
Sudaryono juga menekankan bahwa keberhasilan program MBG tidak hanya dilihat dari tersalurkannya makanan kepada penerima manfaat.
Program ini juga diharapkan memberikan dampak terhadap perbaikan status gizi dan pertumbuhan peserta didik.
Menurutnya, evaluasi dampak program dapat dilakukan melalui sejumlah indikator, antara lain kondisi fisik, berat badan, tinggi badan, serta tingkat kehadiran siswa di sekolah.
“Karena impact yang kita inginkan adalah perbaikan gizi, pertumbuhan yang baik, dilihat secara fisik, berat badan, tinggi badan, termasuk juga ada output termasuk kehadiran,” tegas Sudaryono.
Ia menilai indikator-indikator tersebut penting untuk membantu melihat manfaat program bagi penerima. Pemantauan secara berkala juga diperlukan agar perkembangan pelaksanaan MBG dapat dievaluasi secara lebih terarah.
Sudaryono Sebut Kehadiran Siswa Meningkat setelah MBG
Dalam kesempatan tersebut, Sudaryono turut membagikan pengalamannya saat mengunjungi sebuah sekolah di Palembang. Ia menyebut tingkat kehadiran siswa di sekolah tersebut sebelumnya berada di kisaran 60 persen dan meningkat menjadi 95 persen setelah program MBG dilaksanakan.
“Saya pernah datang di satu sekolah di Palembang, itu tingkat kehadirannya sekitar 60-an persen. Setelah ada MBG, tingkat kehadirannya naik 95%. Jadi ini ada impact, ada output yang baik, ada hasil yang baik, gitu,” pungkasnya.
Pengalaman tersebut disampaikan sebagai salah satu contoh perubahan yang menurutnya perlu diperhatikan dalam mengevaluasi pelaksanaan program MBG.
Meski demikian, angka kehadiran yang disampaikan tersebut merujuk pada sekolah yang dikunjungi Sudaryono di Palembang. Data tersebut tidak dengan sendirinya menggambarkan perubahan tingkat kehadiran di seluruh sekolah penerima program.
Melalui pengawasan operasional, pembenahan data penerima manfaat, dan pemantauan indikator keberhasilan, pelaksanaan MBG diharapkan dapat berjalan sesuai ketentuan serta memberikan manfaat bagi kelompok sasaran.