Jakarta, 12 Mei 2026 — Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman menemukan sejumlah persoalan serius saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke dua dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) program Makan Bergizi Gratis (MBG) di kawasan Kebon Jeruk dan Petamburan, Jakarta Barat.
Dalam sidak tersebut, Dudung mendapati kondisi dapur yang dinilai tidak layak, mulai dari banyaknya belatung, tumpukan sampah, hingga sistem sanitasi yang tidak memenuhi standar. Ia pun meminta agar dapur tersebut segera ditutup apabila pengelola tidak segera melakukan perbaikan.
“Ya segera saya sarankan kepada MBG, BGN ya, untuk segera ditutup saja. Ini kan belatung di mana-mana coba perhatikan. Ini sangat dekat sekali, ya, kalau enggak segera dikasih waktu. Kalau misalnya tidak bisa diperbaiki, dalam waktu dekat segera akan ditutup aja saya sampaikan demikian,” ujar Dudung, dikutip dari tayangan YouTube Kompas TV, Selasa (12/5/2026).
Khawatir Timbulkan Kasus Keracunan
Dudung menegaskan bahwa temuan tersebut tidak boleh dianggap sepele. Menurutnya, kondisi dapur yang tidak higienis sangat berisiko menimbulkan kasus keracunan makanan, terutama bagi anak-anak sebagai penerima manfaat program MBG.
Ia mengingatkan bahwa program makan bergizi seharusnya menjadi sarana meningkatkan kesehatan anak, bukan justru menghadirkan ancaman baru akibat lemahnya pengawasan kebersihan dan keamanan pangan.
“Jangan menganggap gampang ya. Nanti suatu ketika terjadi keracunan, anak-anak menjadi korban. Nah ini yang tidak kita inginkan,” katanya.
Menurut Dudung, pemerintah harus memastikan setiap dapur MBG memenuhi standar kesehatan dan operasional sebelum diperbolehkan beroperasi melayani masyarakat.
Temukan Banyak Pelanggaran Standar Operasional
Dalam sidak tersebut, Dudung juga menyoroti sejumlah pelanggaran standar operasional di area dapur. Ia menyebut sistem pengolahan limbah dan tata ruang dapur tidak memenuhi persyaratan dasar keamanan pangan.
“Tadi IPAL-nya juga tidak memenuhi syarat. Kemudian beberapa tempat pencucian, kemudian ruangan yang begitu panas, antara dapur kering, penyimpanan yang kering, gudang basah dengan gudang kering juga itu jadi satu dengan AC-nya satu. Dan pencucian nabati dan hewani itu harus terpisah, tidak boleh jadi satu,” tukasnya.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi menyebabkan kontaminasi silang yang dapat membahayakan kualitas makanan yang disajikan kepada penerima manfaat program.
Dudung meminta kepala yayasan maupun pengelola dapur segera melakukan pembenahan menyeluruh agar fasilitas dapat memenuhi standar yang telah ditetapkan pemerintah.
Program MBG Harus Fokus pada Kesehatan Anak
Lebih lanjut, Dudung menegaskan bahwa pengawasan dilakukan untuk memastikan program MBG benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Ia menyoroti pentingnya menjaga integritas program agar tidak dimanfaatkan hanya untuk kepentingan keuntungan semata.
“Dan kemudian untuk memastikan juga keamanan pangan, kemudian kesehatan penerima manfaat, dan dipastikan anak-anak yang menerima itu betul-betul menjadi sehat. Ya, bukan kemudian akhirnya hanya sekadar makan saja hanya cari keuntungan,” kata Dudung.
Ia menilai kualitas makanan, kebersihan dapur, dan standar operasional merupakan faktor utama dalam keberhasilan program nasional tersebut.
Penggunaan Anggaran Harus Transparan
Dalam kesempatan itu, Dudung juga mengingatkan bahwa program MBG dibiayai menggunakan uang rakyat. Karena itu, menurutnya, pengelolaan program harus dilakukan secara transparan dan akuntabel.
KSP, kata Dudung, akan terus melakukan pengawasan agar anggaran yang digunakan benar-benar berdampak terhadap peningkatan kualitas generasi muda Indonesia.
“Apakah betul-betul untuk menciptakan generasi-generasi penerus ke depannya sesuai dengan harapan Bapak Presiden bahwa Indonesia Emas ke depan 2045 itu diciptakan dari mulai sekarang,” imbuhnya.
Evaluasi Ketat Diperlukan
Temuan KSP di dua dapur MBG Jakarta Barat tersebut menjadi peringatan penting bagi seluruh pengelola SPPG di berbagai daerah agar lebih serius menjaga standar higiene dan sanitasi.
Pemerintah sebelumnya telah menekankan bahwa keamanan pangan menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program MBG. Karena itu, evaluasi berkala dan pengawasan ketat dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah terjadinya kasus keracunan maupun penyimpangan tata kelola di lapangan.
Dengan pengawasan yang lebih ketat, program MBG diharapkan dapat berjalan sesuai tujuan awal, yakni menghadirkan makanan sehat, aman, dan bergizi bagi anak-anak Indonesia demi mendukung terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.